Selasa, 26 Januari 2010

PROPOSAL PENELITIAN PENGARUH KONSEP DIRI TERHADAP MOTIVASI BELAJAR

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pendidikan pada dasarnya ialah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan sumber daya manusia (SDM) bagi peserta didik dengan cara mendorong dan memfasilitasi kegiatan belajar yang dibutuhkan. Tanpa adanya pendidikan yang diterapkan atau diberikan, maka dapat menghasilkan manusia-manusia yang tidak berkualitas atau tidak bermoral.

Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 berbicara tentang sistem Pendidikan Nasional bab I pasal I, pendidikan di definisikan sebagai sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses belajar agar peserta didik mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian ,kecerdasan dan ketrampilan yang diperlukan dirinya , masyarakat, bangsa dan negara

Untuk membentuk suatu konsep diri yang baik, terlebih dahulu harus mengenal diri sendiri, karena diri (self) merupakan suatu kunci utama dari rangka kehidupan. (James, 1902, dalam Jerselid, 1954), mengatakan diri merupakan komposisi pikiran dan perasaan yang menjadi kesadaran seseorang mengenai eksistensi individualitasnya, pengamatannya, tentang apa yang merupakan miliknya, pengertiannya mengenai siapa dia itu, perasaannya tentang sifat-sifatnya, kualitasnya dan segala miliknya.

(De Vito, 1997 : 57), mengatakan kita harus mendaftarkan berbagai kualitas yang ingin kita miliki, kesadaran diri pasti menempati prioritas tinggi. "Kita semua ingin mengenal diri sendiri secara lebih baik karena kita mengandalkan pikiran dan perilaku kita sebagian besar sampai batas kita memahami diri sendiri, sebatas kita menyadari siapa kita. Jika tidak memahami diri sendiri, maka konsep diri yang di bentuk tidak ada hasilnya.

Regers (dalam Budiharjo, ed, 1997), mengartikan konsep diri merupakan bagian sadar dari ruang fenomenal yang disadari dan disimbolisasikan, yaitu "Aku" merupakan pusat referensi setiap pengalaman. Seorang anak mengatakan bahwa Ia adalah seorang pelajar, maka Ia harus menunjukan dirinya sebagai seorang pelajar dan hal yang harus di buat yaitu dengan mengatur jadwal belajar yang baik dan belajar dengan tekun,berarti anak tersebut mempunyai motivasi untuk belajar

Pace & Faules (1998:125 ),mengatakan bahwa orang akan termotivasi bila Ia percaya bahwa perilaku tertentu , dan mempunyai nilai positif baginya serta hasil tersebut dapat dicapai dengan usaha yang dilakukannya.peserta didik mempunyai kewajiban untuk belajar dan mempunyai motivasi untuk bisa bersaing dengan teman-temannya.

SMA Negeri II Maumere merupakan salah satu sekolah yang cukup populer di Maumere. SMA Negeri II Maumere juga menerima dan menampung siswa/i yang dengan latar belakang ekonomi keluarga yang berbeda dan dengan tipe kepribadian setiap siswa/i yang berbeda pula. Dalam diri setiap siswa/i ada yang mempunyai motivasi yang bagus di bidang akademik maupun di bidang non akademik, namun dalam diri siswa/i tersebut tidak mempunyai konsep diri yang baik, maka motivasi untuk belajar yang diharapkan atau yang diinginkan tidak dapat terpenuhi.

Sesuai dengan fenomena yang terjadi sekarang ini, yang sering kita amati baik itu dilingkungan sekolah, lingkungan keluaraga, maupun di lingkungan masyarakat, bahwa setiap anak atau siswa/i motivasi belajarnya masih sangat minim.Hal ini disebabkan karena dalam diri siswa/i belum mempunyai konsep diri yang baik dan kebanyakan ada paksaan dari orang tua, guru barulah anak atau siswa tersebut untuk belajar. Para anak didik dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai sekolah tingkat lanjutan atas (SLTA) belum secara mendalam mengenal dirinya sendiri, sehingga konsep diri yang di bentuk belum seoptimal.

Dan harus ada orang lain disamping kita yaitu orang tua, guru, dan teman artinya dengan adanya mereka bisa memberikan dorongan dan masukan-masukan yang bisa memperbaiki perilaku dahulunya kurang bagus atau kurang baik dan bisa diarahkan ke arah yang lebih baik lagi.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka masalah yang akan diteliti adalah “Apakah ada Pengaruh Konsep Diri Terhadap motivasi Belajar Pada siswa/I SMA Negeri II Maumere?”

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya Pengaruh Konsep Diri Terhadap Motivasi Belajar Pada siswa/I SMA Negeri II Maumere

1.4. Manfaat Penelitian :

1.4.1. Manfaat secara teoritis

Penelitian ini diharapan bermenfaat sebagai studi dalam rangka mengembangkan ilmu yang telah didapat, khususnya ilmu psikologi pendidikan.

1.4.2. Manfaat secara praktis

1.4.2.1.Bagi siswa/i

Sebagai masukan agar dapat mengembangkan konsep dirinya dengan baik dan memotivasi dirinya agar tetap semangat.

1.4.2.2.Bagi para guru

Agar bisa memberikan dorongan dan arahan kepada siswa/i supaya lebih semangat belajar dan bersaing satu dengan yang lainya.

1.4.2.3.Bagi orang tua

Agar orang tua mampu melihat dan memotivasikan anaknya dalam melaksanakan tuagasnya sebagai seorang pelajar.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Motivasi Belajar

2.1.1. Pengertian

Motivasi berasal dari kata “motif” yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu,yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat. Motif tidak dapat diamati secara langsung. Tetapi dapat diinterpretasiakan dalam tingkah lakunya, berupa rangsangan,dorongan atau pembangkit tenaga munculnya suatu tingkah laku tertentu.

Sherif (1956),mengatakan motif sebagai suatu istilah generik yang meliputi semua faktor internal yang mengarah pada berabagai jenis perilaku yang bertujuan semua pengearu internal, seperti kebutuhan (needs) yang berasal dari fungsi-fungsi organisme, dorongan dan keinginan, aspirasi, dan selera sosial yang bersumber dari fungsi-fungsi tersebut.Giddnes (1980:64 ),mengartikan motif sebagai implus atau dorongan yang memberi energi pada tindakan manusia sepanjang lintas koqnitif atau perilaku kearah pemuasan kebutuhan.

Harlod Koonts Dkk (1980:632 ),mengutip pendapat Berelson dan Gary Steineris an inner state that energizes, activates or moves (hence motivation) and that direets or channeis behavior to ward goals”artinya suatu keadaan dari dalam yang memberi kekuatan,yang menggiatkan atau menggerakan sehingga disebut “penggerakan atau motivasi,” dan menggerakan atau menyalurkan perilaku kearah tujuan- tujuan. mengemukakan bahawa motif “

Gitosudarmo (1997:28),mengatakan bahwa motivasi adalah faktor-faktor yang ada dalam diri seseorang yang menggerakan, mengarahkan, penggerakan perilakunya untuk memenuhi tujuan tertentu.

Woodworth dan Marquis (1955:301-333),membedakan motif menjadi 3 macam yaitu :

1. Motif Biogenetis:

Motif-motif yang berasal dari kebutuhan-kebutuhan organisme demi kelanjutan hidupnya.misalnya :lapar,haus,kebutuhan akan kegiatan dan istirahat,mengambil napas,seksualitas dan sebagainya.

2. Motif Sosioginetis :

Motif yang berkembang berasal dari lingkungan kebudayaan tempat orang tersebut berada.motif ini tidak dapat berkembang dengan sendirinya,tetapi dipengaruhi oleh lingkungan kebudayaan setempat.misalnya keinginan mendengarkan musik, makan pecel dan makan coklat.

3. Motif teologis :

Dalam motif ini manusia adalah makhluk yang berketuhanan ,sehingga ada interaksi antara manusia dengan Tuhan, seperti ibadahnya dalam kehidupan sehari-hari.misalnya :keinginan untuk mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2.1.2 Faktor –faktor Motivasi Belajar

Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi.Belajar merupakan perubahan tingkah laku secara relatif permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dari praktek atau penguatan (reinforced pratic) yang dilandasi tujuan untuk mencapai tujuan tertentu. Motivasi belajar dapat timbul karena faktor,yaitu :

2.1.2.1 Faktor intrinsik

Motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dari orang lain,tanpa atas dasar kemauan sendiri.motivasi ini berupa hasrat dan keinginan berhasil dan dorongan kbutuhan belajar, harapan dan cita-cita.

2.1.2.2 Faktor ekstrinsik

Motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu,seperti adanya penghargaan,lingkungan belajar yang kondusif dan kegiatan belajar yang menarik.

2.1.3 Peranan Motivasi dalam Belajar

Motivasi pada dasarnya dapat membantu dalam memahami dan menjelaskan perilaku individu, termasuk perilaku individu yang seang belajar.Ada beberapa peranan penting dari motivasi belajar yaitu :

1. Peran Motivasi Dalam Menentukan Penguatan Belajar

Motivasi dapat berperan dalam penguatan belajar apabila anak yang belajar sedang dihadapkan pada suatu masalah yang memerlukan pemecahan dan hanya dapat dipecahkan berkat bantuan hal-hal yang pernah dilaluinya.misalnya, seorang anak akan memecahkan materi matematika dengan bantuan tabel logaritma.Tanpa bantuan tabel tersebut,anak itu tidak dapat menyelsaikan tugas matmatika.Dalam kaitan itu, anak berusaha mencari buku tabel matmatika.Upaya mencari tabel matematika merupakan peran motivasi yang dapat menimbulkan penguatan belajar.

2. Peran Motivasi dalam Memperjelas Tujuan Belajar

Peran motivasi dalam memperjelas tujuan belajar erat kaitanya dangan kemaknaan belajar.Anak akan tertarik akan belajar sesuatu,jika yang dipelajari itu sedikitnya sudah dapat diketahui atau dinikamati menfaatnya bagi anak .misalnya,anak akan termotivasi belajar elktronik karena tujuan belajar elktronik itu dapat melahirkan kemampuan anak dalam bidang elktronik.Dalam suatu kesempatan misalnya, anak tersbut diminta membetulkan radio yang rusak, dan berkat pengalamannya dari bidang elktronik , maka radio tersebut menjadi baik setelah diperbaikinya. Dari pengalaman itu, anak makin hari makin termotivasi untuk belajar, karena sedikit anak sudah mengtahui makna dari belajar itu.

3. Motivasi Mentukan Ketekunan Belajar

Sorang anak yang telah termotivasi untuk belajar sesuatu, akan berusaha mempelajarinya dengan baik dan tekun,dengan harapan memperoleh hasil yang baik . Dalam hal itu, tampak bahwa motivasi untuk belajar menyebabkan sesorang tekun belajar. Sebaliknya, apabila sesorang kurang atau tidak memiliki motivasi untuk belajar,maka tidak tahan lama dalam belajar.Dia mudah tergoda untuk mengerjakan hal yang lain dan bukan belajar.Itu berarti motivasi sangat berpengaruh terhadap ketahanan dan ketekunan belajar.

2.1.4 Fungsi Motivasi

Oemar Hamalik (2002),menyebutnya bahwa ada 3 fungsi motivasi,yaitu :

1. Mendorong manusia untuk berbuat,jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi.motivasi dalam hal ini merupakan langkah penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.

2.Menentukan arah perbuatan yakni kearah tujuan yang hendak dicapai .Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumus tujuannya.

3.Menyelesaikan perbuatan,yakni menetukan perbuatan-perbuatan yang harus dikejakan yang serasi guna mencapai tujuan,dengan meenyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermenfaat bagi tujuan tersebut.

2.1.6 Strategi menumbuhkan motivasi

Ada beberapa strategi untuk menumbuhkan motivasi belajar :

2.1.6.1 Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik

Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai tujuan yang akan dicapainya kepada siswa.makin jelas tujuan makin makin besar pula motivasi dalam melaksanakan kegiatan belajar.

2.1.6.2 Hadiah

Berikan hadiah untuk siswa yang berpresatsi.Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi.Disamping itu,siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprstasi.

2.1.6.3 Saingan atau Kompetisi

Guru berusaha mengadakan persaingan diantara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya dan berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.

2.1.6.4 Pujian

Sudah pantasnya siswa yang berpestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian .tentunya pujian yang bersifat membangun.

2.1.6.5 Hukuman

Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar.Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.

2.1.6.6 Membangkitkan dorongan kepada peserta didik untuk belajar

Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal kepada peserta didik.

2.1.6.7 Membentuk kebiasaan yang baik

2.1.6.8 Membantu kesulitan belajar peserta didik,baik secara individual maupun kelompok

2.1.6.9 Menggunakan metode yang bervariasi

2.1.6.10 Menggunakan media yang baik serta harus sesuai dengan tujuan pembelajaran.

2..2. Konsep Diri

2.2.1. Pengertian

Konsep diri merupakan tema utama psikologi humanistik yang muncul belakangan ini, pembicaraan tentang konsep dapat di lacak sampai William James. James"The I", diri yang sadar dan aktif dan "The Me", diri yang menjadi obyek renungan kita. Menurut William James, ada dua jenis diri, yaitu "diri" dan "aku". Diri adalah Aku sebagaimana dipersepsikan oleh orang lain atau diri sebagai obyek (Objective Self), sedangkan Aku adalah inti dari diri aktif, mengamati, berpikir dan berkehendak (Subjective Self). membedakan antara

(Sarwono, 1997 : 148).

(Beck,Willam dan Rawlin,1986:293),Mengatakan terdapat banyak aspek yang menyangkut diri adalah sesuatu yang biasa bagi Psikologi. Ada lima aspek dari Diri yaitu :

1. Fisik diri, termasuk tubuh dan semua aktivitas biologis berlangsung didalamnya, walaupun banyak orang mengidentifikasikan diri mereka lebih pada akal pikiran dari pada dengan tubuh mereka sendiri.

2. Diri sebagai proses, suatu aliran akal pikiran, emosi, dan perilaku yang kontan.

3. Diri sosial, merupakan sebuah konsep yang penting bagi ahli ilmu-ilmu sosial. Diri sosial terdiri atas akal pikiran dan perilaku yang kita ambil sebagai respon secara umum terhadap orang lain dan masyarakat.

4. Konsep diri, suatu pandangan pribadi yang memiliki seseorang tentang dirinya masing-masing.

5. Cita diri, merupakan faktor yang paling penting dari perilaku dan berkaitan erat dengan konsep diri.

Willian D. Brooks dalam bukunya "Speech Communication", mengatakan "self concept then, can be defined as those physical, social, and psychological perceptions of our selves that we have from experiences and our interaction with others", konsep diri ialah semua presepsi kita terhadap aspek diri yang meliputi aspek fisik, aspek sosial, dan aspek psikologis, yang didasarkan pada pengalaman dan interaksi kita dengan orang lain.

Konsep diri merupakan bagian inti dari pengalaman individu yang secara perlahan-lahan dibedakan dan disimbolisasikan sebagai bayangan tentang diri yang mengatakan "apa dan siapa sebenarnya aku" dan "apa sebenarnya yang harus aku perbuat". Untuk menunjukan apakah konsep diri yang konkret sesuai atau terpisah dari perasaan dan pengalaman organismik, Rogers mengajukan dua konsep diri yaitu :

1. Incongruence :

Ketidaksesuaian antara konsep diri dan pengalaman organismik disebabkan adanya persaingan diri yang mendasar dalam individu. Dalam hal ini, individu merasa diancam dan takut karena. Dia ternyata tidak mampu menerima secara terbuka dan fleksibel semua pengalaman dan nilai orgnaismik dalam konsep dirinya yang terlalu sempit. Akibat dari semua ini ialah konsep diri utuh, tingkah lakunya definsif, pikirannya kaku dan picik.

2. Congruence :

Situasi saat pengalaman diri diungkapkan dengan seksama dalam sebuah konsep diri yang utuh, integral, dan asli.

Secara hirarkis, konsep diri terdiri atas tiga peringkat (Pudjijogyanti, 1988 : 8-11), yaitu

1. Konsep diri global (menyeluruh) :

Konsep diri global merupakan suatu arus kesadaran dari seluruh keunikan individu. Dalam arus kesadaran itu, ada "The I", yaitu "Aku Subyek" dan "The Me" yaitu "Aku Obyek". Kedua "Aku" ini merupakan kesatuan yang tidak dapat dibedakan atau dipisahkan. Aku obyek ada karena proses menjadi tahu (knowing), dan proses ini bisa terjadi karena manusia mampu merefleksikan dirinya sendiri.

Dengan kata lain, kedua aku ini hanya dapat dibedakan secara konseptual, tetapi tetap merupakan satu kesatuan secara psikologis. Hal ini menunjukan bahwa kita tidak hanya dapat menilai orang lain, tetapi juga dapat menilai diri kita sendiri. Diri kita bukan hanya sebagai penanggap, namun juga sebagai peransang. Jadi, diri kita bisa menjadi subyek dan obyek sekaligus.

2. Konsep diri Mayor :

Konsep diri mayor merupakan cara individu memahami aspek sosial, fisik dan akademis dirinya

3. Konsep diri spesifik :

Cara individu dalam memahami dirinya terhadap setiap jenis kegiatan dalam aspek akdemis, sosial maupun fisik.

2.1.2. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Konsep Diri

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi konsep diri, Jalaluddin Rakhmat (1994) membagi 4 faktor yaitu :

1. Orang lain

Kita mengenal diri kita dengan mengenal orang lain lebih dahulu.

2. Significant Others

Dalam perkembangannya, meliputi semua orang yang mempengaruhi perilaku, pikiran dan perasaan kita. Mereka mengarahkan tindakan kita, membentuk pikiran kita dan menyentuh kita secara emosional.

3. Affective Others

Orang lain yang mempunyai ikatan emosional dengan kita. Dari merekalah secara perlahan-lahan, kita membentuk konsep diri kita. Senyuman, pujian, penghargaan dan pelukan mereka, menyebabkan kita menilai diri kita secara positif. Sebaliknya ejekan, cemoohan, dan hardikan membuat kita memandang diri kita secara negatif.

4. Kelompok rujukan (Reference Group)

Dalam pergaulan masyarakat, kita pasti menjadi anggota berbagai kelompok. Setiap kelompok mempunyai norma-norma tertentu. Ada kelompok yang secara emosional mengikat kita, dan berpengaruh pada konsep diri kita. Dengan melihat kelompok ini, orang mengarahkan perilakunya dan menyesuaikan dirinya dengan ciri-ciri kelompoknya.

William Brooks menyebutkan empat faktor yang mempengaruhi perkembangan konsep diri seseorang antara lain

1. Self Appraisal – Viewing Self as on object :

Menunjukan suatu pandangan, yang menjadikan diri sendiri sebagai obyek dalam komunikasi atau dengan kata lain adalah kesan kita terhadap diri kita sendiri. Dalam hal ini kita membentuk kesan-kesan tentang diri kita. Kita mengamati perilaku fisik (lahiriah) secara langsung, misalnya kita melihat diri kita di depan cermin dan kemudian menilai atau mempertimbangkan berat badan, penampilan dan senyum manis. Penilaian-penilaian tersebut sangat berpengaruh terhadap cara kita merasakan tentang diri kita, suka atau tidak suka, senang atau tidak senang, pada apa yang kita lihat tentang diri kita. Apabila merasakan apa yang kita tidak sukai tentang diri kita, disini kita berusaha untuk mengubahnya. Dan jika tidak mau mengubahnya, inilah awal dari konsep diri yang negatif terhadap diri kita sendiri.

Pada dasarnya, konsep diri yang tinggi pada anak dapat tercipta bila kondisi keluarga menyiratkan adanya integritas dan tenggang rasa yang tinggi antara anggota keluarga. Juga oleh sikap ibu yang puas terhadap hubungan ayah-anak, mendukung rasa percaya dan rasa aman anak, pandangan positif terhadap dirinya sendiri dan terhadap suaminya. Adanya integritas dan tenggang rasa, serta sikap positif dari orang tua, akan menyebabkan anak memandang orang tua sebagai figur yang berhasil dan menganggap orangtua sebagai teman karib atau orang yang dapat dipercayai. Dengan kata lain, kondisi keluarga yang demikian dapat membuat anak menjadi lebih percaya diri dalam membentuk seluruh aspek dalam dirinya karena Ia mempunyai modal yang dapat dipercaya.

2. Reaction and Response of Others

Konsep diri itu tidak saja berkembang melalui pandangan kita terhadap diri sendiri, namun juga berkembang dalam rangka interaksi kita dengan masyarakat. Oleh sebab itu, konsep diri dipengaruhi oleh reaksi serta respons orang lain terhadap diri kita, misalnya perbincangan tentang masalah sosial.

Menurut Brook (1971), "Self concept is the direct result of how significant others react to the individual". Jadi, self concept atau konsep diri adalah hasil langsung dari cara orang lain bereaksi secara berarti kepada individu.

Karena kita mendengar adanya reaksi orang terhadap diri kita, misalnya apa yang mereka sukai atau tidak mereka sukai yang menyangkut diri kita, muncul apa yang mereka rasakan tentang diri kita, perbuatan kita, ide-ide, kata-kata dan semua yang menyangkut dengan diri kita. Dengan demikian, apa yang ada pada diri kita, di evaluasi oleh orang lain melalui interaksi kita dengan orang tersebut, dan pada gilirannya evaluasi mereka mempengaruhi perkembangan konsep diri kita.

3. Roles You Play-Role Taking

Peran merupakan seperangkat patokan, yang membatasi perilaku yang mesti dilakukan oleh seseorang yang menduduki suatu posisi (Suhardono, 1994).

Dalam hubungan pengaruh peran terhadap konsep diri, adanya aspek peran yang kita mainkan sedikit banyak akan mempengaruhi konsep diri kita.

Peran yang kita mainkan itu adalah hasil dari sistim nilai kita. Kita dapat memotret diri kita sebagai seorang yang dapat berperan sesuai dengan presepsi kita yang didasarkan pada pengalaman diri sendiri, yang dalam hal ini terdapat unsur selektivitas dari keinginan kita untuk memainkan peran, seperti halnya jika kita memilih baju memilih buah-buahan, memilih sekolah dan sebagainya. Lebih banyak peran yang kita mainkan dan dianggap positif oleh orang lain, semakin positif konsep diri kita. Semakin positif konsep diri kita, semakin positif komunikasi kita dengan orang lain.

4. Reference Group

Yang dimaksud dengan reference group atau kelompok rujukan adalah kelompok yang kita menjadi anggota di dalamnya. Jika kelompok ini kita anggap penting, dalam arti mereka dapat menilai dan beraksi pada kita, hal ini akan menjadi kekuatan untuk menentukan konsep diri kita. Willian Brookmengatakan "Research shows that how we evaluate ourselves is in part of function of how we are evaluated by reference groups" (Brook, 1971 : 66). Jadi menunjukan bahwa cara kita menilai diri kita merupakan bagian dari fungsi kita di evaluasi oleh kelompok rujukan.

Sikap menunjukan rasa tidak senang atau tidak setuju terhadap kehadiran seseorang, biasanya dipergunakan sebagai bahan komunikasi dalam penilaian kelompok terhadap perilaku seseorang. Dan komunikasi tersebut selanjutnya akan dapat mengembangkan konsep diri seseorang sebagai akibat dari adanya pengaruh kelompok rujukan. Semakin banyak kelompok rujukan yang menganggap diri kita positif, semakin positif pula konsep diri kita .

2.1.3. Komponen-Komponen Konsep Diri :

1. Citra tubuh

Sikap, presepsi, keyakinan dan pengetahuan individu secara sadar atau tidak sadar terhadap tubuhnya yaitu ukuran, bentuk, struktur, fungsi, keterbatasan, makna dan obyek yang kontak secara terus menerus.

2. Ideal diri

Presepsi individu tentang bagaimana dia harus berprilaku berdasarkan standar, tujuan, keinginan atau nilai pribadi tertentu. Ideal diri sama dengan cita-cita, keinginan, harapan tentang diri sendiri.

3. Harga Diri

Penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Pencapaian ideal diri, cita-cita, harapan langsung menghasilkan perasaan berharga.

4. Penampilan Peran

Seperangkat perilaku yang diharapkan secara sosial yang berhubungan dengan fungsi individu pada berbagai kelompok sosial.

5. Identitas Personal

Kesadaran atau keunikan diri sendiri yang bersumber dari penilaian dan observasi diri sendiri. Identitas ditandai dengan kemampuan memandang diri sendiri beda dengan orang lain, mempunyai percaya diri, dapat mengontrol diri, mempunyai persepsi tentang peran serta citra diri

2.3 Pengaruh Konsep Diri Terhadap Motivasi Belajar

Borislow(1992),mengatakan bahwa pengaruh diantara konsep diri dan penampilan akademis merupakan hal yang kompleks terhadap motivasi yang memerlukan sebuah sisipan ke dalam formula tersebut begitu juga suatu diferensiasi diantara konsep diri yang global dan konsep diri sebagai seorang pelajar sangat diperlukan.

Purkey (1970) dan Labenne dan Green (1969),mengatakan bahwa konsep diri yang rendah tidak berisi pandangan bahwa anak yang bersangkutan kompoten atau dapat berhasil dalam aktifitas-aktifitas sekolahnya, tetapi cendrung untuk menghasilkan pencapaian prestasi yang rendah dan tingkatan-tingkatan penampilan yang jelek.

Berdasarkan pendapat ahli diatas,maka penulis berasumsi bahwa semakin bagus konsep diri pada siswa, semakin bagus pula motivasi untuk belajar Tetapi dalam diri siswa tersebut konsep dirinya rendah, maka motivasi belajarnya pun rendah, hal ini juga akan mempengaruhi perstasi siswa baik di bidang akademik maupun di bidang non akademik.

2.4 Hipotesis

Berdasarkan dari kajian pustaka diatas maka, hipotesis yang digunakan pada penelitian ini “Ada Pengaruh Konsep Diri Terhadap Motivasi Belajar.”

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Rancangan penelitian

(Azwar,2005) Rancangan penelitian yang penulis gunakan disini adalah penelitian kuantitatif.Dimana dalam penelitian ini,peneliti berangkat dari landasan teoritis untuk memahami fenomena pendidikan yang sedang berkembang. Dari analisa data setelah seluruh proses penelitian,barulah penulis membuat kesimpulan apakah kesimpulan itu mengafirmasi,merevisi,atau menegasi teori yang ada.Dengan kata lain penelitian ini bersifat deduktif.Dalam penelitian ini, penulis akan membuat survey sambil berpegang pada landasan teoritis yang diperoleh dan disini akan menekankan data-data numerikal yand diolah dengam metode statisik.

3.2. Identifikasi Variabel

Dalam penelitian ini ada dua variabel yang dipakai yaitu konsep diri dan prestasi belajar.

Ø Variabel Independent ( Y ) : Motivasi Belajar

Ø Variabel Dependent ( X ) : Konsep Diri

3.3. Definisi Operasional

3.3.1. Motivasi belajar

Gitosudarmo (1997:28) ,mengatakan bahwa motivasi adalah faktor-faktor yang ada dalam diri seseorang yang menggerakan, mengarahkan, pengarahkan perilakunya untuk memenuhi tujuan,yang meliputi faktor intrinstik dan ekstrinsik.

3.3.2. Konsep Diri

Konsep diri adalah :Cara individu memandang dirinya secara utuh :yang memiliki lima aspek yaitu :fisik, emosional, intelktual, sosial, dan spiritual.(Beck, Wiliam, Rawlin, 1986:293)

3.4. Populasi dan Sampel

3.4.1. Populasi

Populasi (Sugiyono,2007), diartikan sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karaktersitik tertentu yang ditetapkan oleh penliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulanya. Populasi dalam penelitian ini adalah Siswa/i Kelas II SMA Negeri II Maumere.Subyek dalam penelitian ini adalah siswa/i berjumlah 188orang

3.4.2. Sampel

Sampel penelitian (Sugiyono, 2007), adalah sebagian dari yang diambil sebagai sumber data dan dapat mewakili seluruh populasi.adapun teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah probability sampling dengan teknik pengambilan sampel secara random sampling. Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama kepada anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Sedangkan teknik yang digunakan untuk menentukan sampel yaitu random sampling adalah teknik penggunaan untuk menentukan jumlah sampel secara acak . Jumlah sampel dalam penelitian ini yaitu siswa dari kelas yang telah ditentukan.. Penentuan jumlah sampel dari populasi yaitu dengan menggunakan taraf kesalahan 5%.

Tabel 1

No

Kelas

Populasi

Jumlah siswa

Sampel

1

Kelas XI

IPA 1

30

10

IPA 2

26

10

BAHASA 1

28

10

BAHASA 2

23

10

BAHASA 3

25

10

IPS 1

30

10

IPS 2

26

10

Total Siswa

188

70

3.5. Metode Pengumpulan Data

( Azwar, 2005 ), Metode pengumpulan data dalam penelitian ini mempunyai tujuan mengungkapkan fakta mengenai variabel yang akan diteliti, sehingga perlu menggunakan metode yang efisien dan akurat. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini memakai skala.

Skala adalah alat ukur yang memiiki karakteristik khusus yang membedakannya dari berbagai bentuk alat pengumpulan data yang lain seperit angket, daftar isian, inventori dan lain-lain.skala yang digunakan adalah skala likert.(Azwar, 2005)

Skala likert adalah skala yang mengukur sikap dengan setuju atau tidak setuju terhadap subyek, obyek atau kejadian tertentu. Dengan skala likert, variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel kemudian seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial.

Untuk melakukan penskalaan dengan metode ini di jumlah pernyataan sikap telah di tulis berdasarkan kaidah penulisan pernyataan dan didasarkan pada rancangan skala yang telah ditetapkan.

Responden akan diminta untuk menyatakan persetujuan atau ketidaksetujuan terhadap isi pernyataan dalam empat kategori yaitu

Tabel 2

Kategori Jawaban

Favorable

Unfavorable

Sangat setuju

Setuju

Tidak setuju

Sangat tidak setuju

4

3

2

1

1

2

3

4

1. Skala konsep diri :

Konsep diri adalah :Cara individu memandang dirinya secara utuh yang memiliki lima aspek yaitu :fisik, emosional, intelektual, sosial, dan spiritual.(Beck, Wiliam, Rawlin, 1986:293). Faktor-faktor ini akan dijadikan acuan dalam pembuatan alat ukur Konsep Diri.

Jumlah seluruh aitem pada skala ini sebanyak 50 aitem yang dibagi dalam dua kelompok aitem, yaitu kelompok favorable dan kelompok anfavorable.

Tabel 3

Blue Print Skala Konsep Diri

No

Faktor-faktor

Favorable

Unfavorable

Jumlah

1.

Fisik

2,4,6,8,10

1,3,5,7,9

10

2.

Emosi

12,14,16,18,20

11,13,15,17,19

10

3.

Intelektual

22,24,26,28,30

21,23,25,27,31

10

4.

Sosial

32,34,36,38,40

33,35,37,39,40

10

5.

Spiritual

42,44,46,48,50

41,43,45,47,49

10

Total

50

50

50

Tabel 4

Blue Print Skala Konsep Diri Yang Dinyatakan Dalam(%)

No

Faktor-faktor

Favorable

(%)

Unfavorable

(%)

Jumlah

(%)

1.

Fisik

10%

10%

20%

2.

Emosi

10%

10%

20%

3.

Intelektual

10%

10%

20%

4.

Sosial

10%

10%

20%

5.

Spiritual

10%

10%

20%

Total

50%

50%

100%

1. Motivasi Belajar

Gitosudarmo (1997:28) ,mengatakan bahwa motivasi adalah faktor-faktor yang ada dalam diri seseorang yang menggerakan, mengarahkan, pengarahkan perilakunya untuk memenuhi tujuan. yang meliputi faktor intrinstik dan ekstrinsik.

Jumlah seluruh aitem pada skala ini sebanyak 50 aitem yang dibagi dalam dua kelompok aitem, yaitu kelompok favorable dan kelompok unfavorable.

Tabel 5

Blue Print Skala Motivasi Belajar

No

Faktor-faktor

Favorabel

Unfavorabel

Jumlah

1.

Intrinstik

2,4,6,8,10,12,14

16,18,20,22,24,26

1,3,5,7,9,11,13

15,17,19,21,23,25

26

2.

Ekstrinsik

28,30,32,34,36,38

40,42,44,46,48,50

27,29,31,33,35,37

39,41,43,45,47,49

24

Total

25

25

50

Tabel 6

Blue Print Skala Motivasi Belajar Yang dinyatakan (%)

No

Faktor-faktor

Favorable

(%)

Unfavorable

(%)

Jumalah

(%)

1

Intrinstik

26

26

52

2

Ekstrinsik

24

24

48

Total

50

50

100

3.5. Validitas dan Reliabilitas

Suatu skala dikatakan representasi fungsional dan akurat apabila skala tersebut memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi. Oleh karena itu sebelum skala tersebut dikenakan pada subyek penelitian yang sesungguhnya dilakukan uji coba untuk memperoleh validitas dan reliabilitas.

3.5.1. Validitas

Validitas mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurannya. Suatu skala dapat dikatakan memiliki validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurannya atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukan pengukurannya tersebut. (Azwar,2005) .

Pengujian validitas data-data dan keahlian butir-butir dalam peneitian ini, menggunakan program komputer seri program stastistik dengan menggunakan korelasi product moment dari program dengan rumus adalah sebagai berikut :


N.Sxy Sx . Sy

rxy = ––––––––––––––––––––––––––––

Ö (N. Sx²) (Sx)² . (N. Sy²) – (Sy)²

Keterangan :

rxy = Koefisien korelasi product moment

y = Jumlah nilai aitem

y2 = Hasil pangkat dari y

N = Jumlah subyek

Sxy = Jumlah keseluruhan dari Sx dan Sy

Sy = jumah dari keseuruhan aitem Sx

Sx = Jumlah keseluruhan dari aitem

3.5.2. Reliabilitas

Reliabilitas disebut juga keandalan alat ukur yang diartikan suatu alat ukur dalam mengukur hal yang sama (Azwar,2005). Instrument dikatakan realibel jika alat ukur menghasilkan hasil-hasil konsisten. Reliabilitas dapat diartikan sebagai kepercayaan, keterandalan, keajekan, kestabilan, konsistensi dan sebagainya.

Rumus yang digunakan yaitu rumus alpha cronbach :

α = [ n ] [ 1 - Ssj2 ]

N-1 St2

Sj 12 = Sx12 - ( Sx1 )2

N

N -1

St2 = Sy2 – ( SY1 ) 2

N

N - 1

Keterangan :

n = Jumlah subyek

Sj² = Varians belahan dari aitem

St = Varians total

3.6. Analisa Data

Hasil data yang diperoleh adalah data yang bersifat kuantitatif,yaitu data yang berupa angka-angka sehingga analisanya menggunakan teknik stastistik.Untuk mencari korelasi antara dua variabel atau lebih,maka stastisik yang digunakan adalah teknik korelasi dengan dua variabel yang akan diteliti pengaruhnya,sehingga variabel bebasnya (y) dan variable terikatnya (x).

Dalam menghitung analisa data peneliti akan menggunakan bantuan komputer seri program stastistik (SPSS),dengan rumus product moment,sebagai berikut:

N.Sxy Sx . Sy

rxy = ––––––––––––––––––––––––––––

Ö (N. Sx²) (Sx)² . (N. Sy²) – (Sy)²

Keterangan :

rxy = Koefisien korelasi product moment

y = Jumlah nilai aitem

y2 = Hasil pangkat dari y

N = Jumlah subyek

Sxy = Jumlah keseluruhan dari Sx dan Sy

Sy = Jumah dari Sx yang dikuadratkan

Sx = Jumlah keseluruhan dari aitem

3.7 Jadwal Pelaksanaan Penelitian :

No

Kegiatan

Minggu Ke

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

Pengajuan Judul Proposal

x

x

x

2

Proposal

x

3

Pengajuan Ijin Penelitian

x

4

Peneitian

x

x

x

5

Pengolahan Data

x

x

x

x

x

Keterangan :(x) Pelaksanaan kegiatan

1 komentar:

  1. ada data hasil dari penelitian ini gak??
    klo ada minta donk data pembahasannya..

    BalasHapus