Rabu, 27 Januari 2010

PROPOSAL FAKTOR-FAKTOR APA YANG MEMPENGARUHI IKTERUS PADA NEONATORUM

FAKTOR-FAKTOR APA YANG MEMPENGARUHI IKTERUS PADA NEONATORUM

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.  LATAR BELAKANG
Ikterus adalah warna kuning pada kulit, konjungtiva dan mukosa akibat penumpukan bilirubin. (Mansjoer Arif, 2000:503). Ikterus Neonatorum merupakan fenomena biologis yang timbul akibat tingginya produksi dan rendahnya ekskresi bilirubin selama masa transisi pada neonatus. Pada neonatus produksi bilirubin 2 sampai 3 kali lebih tinggi di banding orang dewasa normal. Hal ini dapat terjadi karena jumlah eritrosit pada neonatus lebih lebih banyak dan usianya lebih pendek.
Banyak bayi baru lahir, terutama bayi kecil (bayi dengan berat lahir
< 2500 g atau usia gestasi < 37 minggu) mengalami ikterus pada minggu-minggu pertama kehidupannya. Data epidemiologi yang ada menunjukan bahwa lebih
50 % bayi baru lahir menderita ikterus yang dapat dideteksi secara klinis dalam minggu pertama kehidupannya. Pada kebanyakan kasus, ikterus neonatorum, kadar bilirubin tidak berbahaya, dan tidak memerlukan pengobatan. Sebagian besar tidak memiliki penyebab dasar atau disebut ikterus fisiologis yang akan menghilang pada akhir minggu pertama kehidupan pada bayi cukup bulan. Sebagian kecil memiliki penyebab seperti hemolisis, septikemi, penyakit metabolik (ikterus non-fisiologis).
Di Amerika Serikat, sebanyak 65 % bayi baru lahir menderita ikterus dalam minggu pertama kehidupannya. Di Malaysia, hasil survei pada tahun 1998 di rumah sakit pemerintah dan pusat kesehatan dai bawah Departemen Kesehatan mendapatkan 75% bayi baru lahir menderita ikterus dalam minggu pertama

kehidupannya. Di Indonesia, insidens ikterus neonatorum pada bayi cukup bulan di beberapa RS pendidikan antara lain RSCM, RS Dr. Sardjito, RS Dr. Soetomo, RS Dr. Kariadi bervariasi dari 13,7 % hingga 85 %. Angka kematian bayi di Indonesia pada tahun 1997 tercatat sebanyak 41,4 per 1000 kelahiran hidup. Dalam upaya mewujudkan visi “Indonesia Sehat 2010” maka salah satu tolak ukur adalah menurunya angka mortalitas dan morbiditas neonatus, dengan proyeksi pada tahun 2025 AKB dapat turun menjadi 18 per 1000 kelahiran hidup.Di RSUD dr. TC. Hillers Maumere pada tahun 2008 dari bulan Agustus sampai bulan Desember terdapat 6 bayi yang menderita penyakit ikterus dan pada tahun 2009 dari bulan Januari sampai bulan Mei terdapat 21 bayi yang menderita penyakit ikterus. Salah satu penyebab mortalitas pada bayi baru lahir adalah ensefalopati bilirubin (yang lebih dikenal dengan kenikterus). Ensefalopati  bilirubin merupakan komplikasi ikterus neonatorum yang paling berat.
Berbagai teknik diagnostik telah digunakan untuk menilai ikterus pada bayi baru lahir. Pengukuran bilirubin serum dianggap sebagai metode yang paling terpecaya, tetapi memiliki keterbatasan dalam hal peralatan dan biaya. Pemeriksaan langsung secara visual tidak dapat dipercaya sepenuhnya dan dapat menyebabkan kesalahan diagnosis. Metode pemeriksaan non inovasif lain seperti transcutaneus bilirubinometry (TcB) merupakan alternatif pemeriksaan (skrining) pengukuran bilirubin serum. Sampai saat ini belum ada keseragaman tatalaksana ikterum neonatorum di Indonesia. Kadar serum bilirubin untuk memulai masing-masing jenis terapi (Terapi Sinar, Transfusi Tukar, Obat-Obatan) masih menjadi pertanyaan. Di satu sisi, terapi yang berlebihan berarti menyia-nyiakan sumber daya yang tidak perlu.
Dengan latar belakang permasalahan tersebut diatas, maka penelti tertarik untuk meneliti lebih jauh tentang faktor-faktor yang mempengaruhi ikterus pada neonatorum.
1.2.  PERUMUSAN MASALAH
Bersarkan latar belakang di atas, maka hal-hal yang akan menjadi pertanyaan di dalam penelitian ini adalah : “Faktor-Faktor Apa Yang Mempengaruhi Ikterus Pada Neonatorum”

1.3.  TUJUAN PENELTIAN
1.3.1.      Tujuan Umum
Untuk mengetahui secara umum tentang faktor-faktor yang mempengaruhi ekterus neonatorum.
1.3.2.      Tujuan Khusus
1.      Mengidentifikasi tentang patofisiologi atau perjalanan dari ikterus neonatorum
2.      Mengidentifikasi tanda-tanda gejala ikterus neonatorum
3.      Mengidentifikasi tentang diagnosis dari ikterus neonatorum
4.      Mengidentifikasi tentang pelaksanaan ikterus neonatorum
5.      Mengidentifikasi tentang pencegahan ikterus neonatorum

1.4.  MANFAAT PENELITIAN
1.4.1.      Bagi Peneliti
Meningkatkan pengetahuan dan pengalaman peneliti, juga mengembangkan pribadi peneliti terutama dalam menerapkan metodologi peneltian.
1.4.2.      Bagi Pendidikan
Memotivasi adik-adik dan teman-teman mahasiswa untuk melakukan penelitian sederhana.

1.4.3.      Bagi Responden
Meningkatkan pengetahuan responden tentang faktor- faktor yang mempengaruhi ikterus

1.5.  RELEVANSI PENELITIAN
Ikterus merupakan warna kuning pada kulit, konjungtiva dan mukosa akibat penumpukan bilirubin. Banyak baru lahir, terutama bayi kecil (bayi dengan berat lahir < 2500 g atau usia gestasi <37 minggu) mengalami ikterus pada minggu pertama kehidupannya. Dan salah satu penyebab kematian pada bayi baru lahir adalah ensefalopati bilirubin (yang lebih dikenal dengan kenikterus). Untuk mengatasi masalah akibat dari ikterus neonatorum ini, peran perawat sebagai pelaksana dan juga pendidik dimana harus mengarahkan masyarakat dengan menambah pengetahuannya tentang ikterus neonatorum sehingga bisa menurunkan angka kematian akibat dari ikterus neonatorum.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar