Rabu, 27 Januari 2010

POLA ASUH ANAK


POLA ASUH DEMOKRATIS
Pengertian Pola Asuh Demokratis
Baumrind (dalam Dariyo, 2007:206-208), berpendapat bahwa pola asuh demokratis (authoritative) merupakan gabungan antara pola asuh permisif dan otoriter dengan tujuan untuk menyeimbangkan pemikiran, sikap dan tindakan antara anak dan orang tua. Baik orang tua maupun anak mempunyai kesempatan yang sama untuk menyampaikan suatu gagasan, ide atau pendapat untuk mencapai suatu keputusan. Dengan demikian orang tua dan anak dapat berdiskusi, berkomunikasi atau berdebat secara konstruktif, logis, rasional demi mencapai kesepakatan bersama. Karena hubungan komunikasi antara orang tua dengan anak dapat berjalan menyenangkan, maka terjadi pengembangan kepribadian yang mantap pada diri anak. Anak semakin mandiri, matang dan dapat menghargai diri sendiri dengan baik. Pola asuh demokratis ini akan dapat berjalan secara efektif dan ada 3 (tiga) syaratnya yaitu (1) orang tua dapat menjalani fungsi sebagai orang tua yang memberi kesempatan kepada anak untuk mengemukakan pendapatnya, (2) anak memiliki sikap yang dewasa yakni dapat memahami dan menghargai orang tua sebagai tokoh utama yang tetap memimpin keluarganya, (3) orang tua belajar memberi kepercayaan dan tanggung jawab terhadap anaknya.
Menurut Lighter (dalam Shochib, 2000:45), pola asuh demokratis sangat penting dalam menentukan pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Pola asuh demokratis merupakan sikap orang tua dalam berinteraksi dengan anak-anaknya. Orang tua sangat berperan penting dalam memelihara, mendidik, membimbing, memberikan perhatian dan proses sosialisasi serta mengarahkan anak untuk membentuk perilaku mencapai perkembangan yang maksimal.
Yadi (dalam Sulkiflil, 2005:215), mendefinisikan pola asuh demokratis adalah komunikasi efektif, akrab, empati, penerimaan sosial terhadap anak dan menumbuh kembangkan rasa percaya diri pada anak.
Dari pendapat para ahli diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pola asuh demokratis adalah sikap orang tua dalam berinteraksi dengan anak-anaknya dimana menciptakan komunikasi yang baik, menyamakan persepsi, dan mencapai kesepakatan bersama demi pengembangan kepribadian yang matang pada diri remaja.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pola Asuh Demokratis
Setiap orang mempunyai sejarahnya sendiri-sendiri dan latar belakang yang sering kali sangat jauh berbeda. Entah itu latar belakang keluarga, lingkungan tempat tinggal atau pengalaman pribadinya. Perbedaan ini sangat memungkinkan pola asuh yang berbeda terhadap anak. Baumrind (2000:67), menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh anak antara lain:
a.          Pengaruh keluarga asal
Faktor yang penting yang kelak mempengaruhi kualitas perkawinan seseorang, menentukan pilihan pasangannya, mempengaruhi pola interaksi komunikasi antara suami istri dan anak. Dalam hal ini penyesuaian antara suami dan istri akan mempengaruhi penyesuaian diri anak, sikap dan kematangan emosi anak.
b.         Hubungan orang tua dengan anak
Iklim emosional dalam keluarga sebagian besar tergantung pada orang tua. Stabilitas kepribadian anak sangat dipengaruhi oleh hubungan-hubungan diantara angggota keluarga. Disamping dipengaruhi oleh orang tua kepribadian anak menentukan iklim emosional dalam keluarga. Iklim emosional yang hangat, akrab, dan menerima merupakan iklim yang menguntungkan untuk perkembangan kepribadian anak.
c.          Sikap penolakan orang tua
Sikap orang tua yang baik untuk perkembangan kepribadian anak adalah sikap mengerti, mencintai, dan menaruh perhatian pada anak. Sikap penolakan orang tua sangat berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak. Sikap orang tua terhadap anak yang terlalu otoriter membuat anak merasa tidak diterima dalam lingkungan keluarga.
d.         Figur orang tua
Setiap anak dari mulai bayi hingga kelak dewasa sangat memerlukan figur dari orang tuanya. Figur yang baik dari keluarga akan menentukan pola perilaku anak yang baik pula.
e.          Ketergantungan yang berlebihan terhadap orang tua
Ketergantungan yang berlebihan terhadap orang tua akan mempengaruhi penolakan orang tua terhadap anak, hal ini dikarenakan anak kurang bertanggung jawab, tidak mandiri dan akan terbawa sampai ke dewasa nanti.
Aspek-Aspek Pola Asuh Demokratis
Menurut Graha (2008:6-7), ada tiga aspek pola pengasuhan demokratis yaitu:
a.          Saling mendengarkan
Komunikasi adalah penyampaian suatu informasi dari satu pihak ke pihak yang lain. Dalam proses komunikasi itu ada pihak yang berbicara dan ada pihak yang mendengarkan. Pihak yang mendengarkan akan mendapat informasi dan kemudian mengerti akan informasi yang disampaikan oleh pihak yang berbicara. Untuk dapat mengerti akan informasi yang disampaikan oleh seorang remaja, orang tua harus bersedia menjadi seorang pendengar yang baik. Menjadi seorang pendengar yang baik artinya mendengarkan dengan seksama apa yang menjadi keluhan, permasalahan, keinginan dan harapan remaja sangat penting bagi orang tua. Permasalahan yang dihadapi oleh remaja sering kali dapat diselesaikan dengan baik karena orang tua bersedia mendengarkan dan memahaminya. Informasi yang diterima dapat menjadi dasar bagi orang tua untuk menentukan sikap dan langkah bagi pemecahan masalah yang dihadapi oleh seorang remaja agar mereka dapat berkembang dengan baik.
Banyak cara untuk bisa menjadi pendengar yang baik bagi remaja dengan memberikan kesempatan dan rangsangan kepada mereka untuk berbicara, mengekspresikan perasaan dan suasana hatinya.
b.         Bersifat terbuka
Untuk mendorong remaja bisa berbicara terbuka, orang tua sebaiknya tidak menghukum ketika mereka berbicara tentang kesalahan yang dilakukannya, tidak pula mengejek dengan kelemahan yang dimiliki oleh remaja, melainkan memberikan kesempatan kepada remaja untuk mengeluarkan perasaannya dengan jujur.
Keterbukaan ini harus sering diasah dan dibiasakan dalam komunikasi antara remaja dan orang tua. Meluangkan waktu dalam berbicara secara terbuka dari hati ke hati secara rutin, maka remaja menjadi lebih percaya kepada orang tua dalam mengutarakan perasaannya, permasalahan dan keinginan yang dimilikinya. Dengan adanya kejujuran dan keterbukaan antara remaja dan orang tua maka dapat tercipta hubungan yang harmonis dalam lingkungan keluarga.
c.          Menyamakan persepsi
Dalam berkomunikasi dengan remaja, orang tua sebaiknya bisa memahami kondisi dan keadaan remaja. Orang tua mengkondisikan posisinya sebagai seorang anak dalam mendengarkan permasalahan dan melihat sesuatu permasalahan dengan menyamakan persepsi dengan remaja. Remaja melihat berbagai hal permasalah dengan cara pandang yang kadang berbeda dengan orang tua. Pada usia ini mereka yang melihat pentingnya permasalahan yang dihadapi dengan kaca mata remaja, bukan kaca mata orang tua yang biasanya lebih luas pandangannya.
Komunikasi antara orang tua dan remaja sering kali terjadi kesalahan karena adanya perbedaan persepsi. Karena itu, untuk menyelesaikan suatu permasalahan antara orang tua dan remaja harus mempunyai persamaan persepsi. Persamaan persepsi antara orang tua dan remaja penting agar komunikasi bisa berjalan dengan baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar